wa qâlalladzîna lâ yarjûna liqâ'anâ lau lâ unzila ‘alainal-malâ'ikatu au narâ rabbanâ, laqadistakbarû fî anfusihim wa ‘atau ‘utuwwang kabîrâ
Orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami (di akhirat) berkata, “Mengapa tidak diturunkan kepada kita malaikat atau (mengapa) kita (tidak) melihat Tuhan kita?” Sungguh, mereka benar-benar telah menyombongkan diri dan melampaui batas (kezaliman) yang sangat besar.
yauma yaraunal-malâ'ikata lâ busyrâ yauma'idzil lil-mujrimîna wa yaqûlûna ḫijram maḫjûrâ
(Ingatlah) hari (ketika) mereka melihat para malaikat. Pada hari itu tidak ada kabar gembira bagi para pendosa dan mereka (para malaikat) berkata, “Sungguh terlarang bagi kamu (kabar gembira).”
wa qadimnâ ilâ mâ ‘amilû min ‘amalin fa ja‘alnâhu habâ'am mantsûrâ
Kami perlihatkan segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan.
ash-ḫâbul-jannati yauma'idzin khairum mustaqarraw wa aḫsanu maqîlâ
Para penghuni surga pada hari itu paling baik tempat tinggalnya dan paling indah tempat istirahatnya.
wa yauma tasyaqqaqus-samâ'u bil-ghamâmi wa nuzzilal-malâ'ikatu tanzîlâ
(Ingatlah) hari (ketika) langit pecah mengeluarkan kabut putih dan malaikat diturunkan (secara) bergelombang.
al-mulku yauma'idzinil-ḫaqqu lir-raḫmân, wa kâna yauman ‘alal-kâfirîna ‘asîrâ
Kerajaan yang hak pada hari itu adalah milik Yang Maha Pengasih. Itu adalah hari yang sangat sulit bagi orang-orang kafir.
wa yauma ya‘adldludh-dhâlimu ‘alâ yadaihi yaqûlu yâ laitanittakhadztu ma‘ar-rasûli sabîlâ
(Ingatlah) hari (ketika) orang zalim menggigit kedua tangannya seraya berkata, “Oh, seandainya (dahulu) aku mengambil jalan bersama rasul.
yâ wailatâ laitanî lam attakhidz fulânan khalîlâ
Oh, celaka aku! Sekiranya (dahulu) aku tidak menjadikan si fulan sebagai teman setia.
laqad adlallanî ‘anidz-dzikri ba‘da idz jâ'anî, wa kânasy-syaithânu lil-insâni khadzûlâ
Sungguh, dia benar-benar telah menyesatkanku dari peringatan (Al-Qur’an) ketika telah datang kepadaku. Setan itu adalah (makhluk) yang sangat enggan menolong manusia.”
wa qâlar-rasûlu yâ rabbi inna qaumittakhadzû hâdzal-qur'âna mahjûrâ
Rasul (Nabi Muhammad) berkata, “Wahai Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Qur’an ini (sebagai) sesuatu yang diabaikan.”
wa kadzâlika ja‘alnâ likulli nabiyyin ‘aduwwam minal-mujrimîn, wa kafâ birabbika hâdiyaw wa nashîrâ
Begitulah, bagi setiap nabi, telah Kami adakan musuh dari para pendosa. Cukuplah Tuhanmu menjadi pemberi petunjuk dan penolong.
wa qâlalladzîna kafarû lau lâ nuzzila ‘alaihil-qur'ânu jumlataw wâḫidah, kadzâlika linutsabbita bihî fu'âdaka wa rattalnâhu tartîlâ
Orang-orang yang kufur berkata, “Mengapa Al-Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya sekaligus?” Demikianlah, agar Kami memperteguh hatimu (Nabi Muhammad) dengannya dan Kami membacakannya secara tartil (berangsur-angsur, perlahan, dan benar).
wa lâ ya'tûnaka bimatsalin illâ ji'nâka bil-ḫaqqi wa aḫsana tafsîrâ
Tidaklah mereka datang kepadamu (membawa) sesuatu yang aneh, kecuali Kami datangkan kepadamu kebenaran dan penjelasan yang terbaik.
alladzîna yuḫsyarûna ‘alâ wujûhihim ilâ jahannama ulâ'ika syarrum makânaw wa adlallu sabîlâ
Orang-orang yang dikumpulkan ke (neraka) Jahanam dengan diseret wajahnya itulah yang paling buruk tempatnya dan paling sesat jalannya.
wa laqad âtainâ mûsal-kitâba wa ja‘alnâ ma‘ahû akhâhu hârûna wazîrâ
Sungguh, Kami telah menganugerahkan Kitab (Taurat) kepada Musa dan menjadikan Harun saudaranya untuk menyertai dia sebagai wazir (pembantu).
fa qulnadz-habâ ilal-qaumilladzîna kadzdzabû bi'âyâtinâ, fa dammarnâhum tadmîrâ
Kemudian Kami berfirman (kepada keduanya), “Pergilah berdua kepada kaum yang mendustakan ayat-ayat Kami.” Lalu, Kami hancurkan mereka dengan sehancur-hancurnya.
wa qauma nûḫil lammâ kadzdzabur-rusula aghraqnâhum wa ja‘alnâhum lin-nâsi âyah, wa a‘tadnâ lidh-dhâlimîna ‘adzâban alîmâ
(Kami telah membinasakan) kaum Nuh ketika mereka mendustakan para rasul. Kami menenggelamkan mereka dan menjadikan (kisahnya) sebagai pelajaran bagi manusia. Kami telah menyediakan untuk orang-orang zalim azab yang sangat pedih.
wa ‘âdaw wa tsamûda wa ash-ḫâbar-rassi wa qurûnam baina dzâlika katsîrâ
(Kami telah membinasakan) kaum ‘Ad, Samud, penduduk Rass, dan banyak (lagi) generasi di antara (kaum-kaum) itu.
wa kullan dlarabnâ lahul-amtsâla wa kullan tabbarnâ tatbîrâ
Masing-masing telah Kami berikan kepadanya perumpamaan-perumpamaan (nasib umat terdahulu) dan masing-masing telah Kami hancurkan sehancur-hancurnya.
wa laqad atau ‘alal-qaryatillatî umthirat matharas-saû', a fa lam yakûnû yaraunahâ, bal kânû lâ yarjûna nusyûrâ
Sungguh, mereka (kaum musyrik Makkah) benar-benar telah melalui negeri (Sodom) yang (dahulu) dijatuhi hujan yang buruk (hujan batu). Tidakkah mereka menyaksikannya? Bahkan, mereka itu sebenarnya tidak mengharapkan adanya kebangkitan.
wa idzâ ra'auka iy yattakhidzûnaka illâ huzuwâ, a hâdzalladzî ba‘atsallâhu rasûlâ
Apabila melihat engkau (Nabi Muhammad), mereka tidak menjadikan engkau selain sebagai ejekan (dengan mengatakan), “Inikah orangnya yang diutus Allah sebagai rasul?
ing kâda layudlillunâ ‘an âlihatinâ lau lâ an shabarnâ ‘alaihâ, wa saufa ya‘lamûna ḫîna yaraunal-‘adzâba man adlallu sabîlâ
Sesungguhnya hampir saja dia (Nabi Muhammad) menyesatkan kita dari sesembahan kita seandainya kita tidak tetap bertahan (menyembah)-nya.” Kelak mereka akan mengetahui pada saat melihat azab, siapa gerangan yang paling sesat jalannya.
a ra'aita manittakhadza ilâhahû hawâh, a fa anta takûnu ‘alaihi wakîlâ
Sudahkah engkau (Nabi Muhammad) melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Apakah engkau akan menjadi pelindungnya?
am taḫsabu anna aktsarahum yasma‘ûna au ya‘qilûn, in hum illâ kal-an‘âmi bal hum adlallu sabîlâ
Atau, apakah engkau mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami? Mereka tidak lain hanyalah seperti hewan ternak. Bahkan, mereka lebih sesat jalannya.
a lam tara ilâ rabbika kaifa maddadh-dhill, walau syâ'a laja‘alahû sâkinâ, tsumma ja‘alnasy-syamsa ‘alaihi dalîlâ
Tidakkah engkau memperhatikan (penciptaan) Tuhanmu? Bagaimana Dia memanjangkan (dan memendekkan) bayang-bayang? Sekiranya berkehendak, niscaya Dia menjadikannya (bayang-bayang itu) tetap. Kemudian, Kami jadikan matahari sebagai petunjuk tentangnya (bayang-bayang itu).
tsumma qabadlnâhu ilainâ qabdlay yasîrâ
Kemudian, Kami menariknya (bayang-bayang itu) ke (arah yang) Kami (kehendaki) sedikit demi sedikit.
wa huwalladzî ja‘ala lakumul-laila libâsaw wan-nauma subâtaw wa ja‘alan-nahâra nusyûrâ
Dialah yang menjadikan malam untukmu (sebagai) pakaian dan tidur untuk istirahat. Dia menjadikan siang untuk bangkit berusaha.
wa huwalladzî arsalar-riyâḫa busyram baina yadai raḫmatih, wa anzalnâ minas-samâ'i mâ'an thahûrâ
Dialah yang meniupkan angin (sebagai) pembawa kabar gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan). Kami turunkan dari langit air yang sangat suci.
linuḫyiya bihî baldatam maitaw wa nusqiyahû mimmâ khalaqnâ an‘âmaw wa anâsiyya katsîrâ
Agar dengannya (air itu) Kami menghidupkan negeri yang mati (tandus) dan memberi minum kepada sebagian apa yang telah Kami ciptakan, (berupa) hewan-hewan ternak dan manusia yang banyak.
wa laqad sharrafnâhu bainahum liyadzdzakkarû fa abâ aktsarun-nâsi illâ kufûrâ
Sungguh, Kami benar-benar telah mempergilirkannya (hujan itu) di antara mereka agar mereka mengambil pelajaran. Akan tetapi, kebanyakan manusia tidak mau (bersyukur), bahkan mereka mengingkari (nikmat).
walau syi'nâ laba‘atsnâ fî kulli qaryatin nadzîrâ
Sekiranya berkehendak, niscaya Kami utus seorang pemberi peringatan pada setiap negeri.
fa lâ tuthi‘il kâfirîna wa jâhid-hum bihî jihâdang kabîrâ
Maka, janganlah engkau taati orang-orang kafir dan berjihadlah menghadapi mereka dengannya (Al-Qur’an) dengan (semangat) jihad yang besar.
wa huwalladzî marajal-baḫraini hâdzâ ‘adzbun furâtuw wa hâdzâ mil-ḫun ujâj, wa ja‘ala bainahumâ barzakhaw wa ḫijram maḫjûrâ
Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan); yang ini tawar serta segar dan yang lain sangat asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang tidak tembus.
wa huwalladzî khalaqa minal-mâ'i basyaran fa ja‘alahû nasabaw wa shihrâ, wa kâna rabbuka qadîrâ
Dialah (pula) yang menciptakan manusia dari air (mani). Lalu, Dia menjadikannya (manusia itu mempunyai) keturunan dan muṣāharah (persemendaan). Tuhanmu adalah Mahakuasa.
wa ya‘budûna min dûnillâhi mâ lâ yanfa‘uhum wa lâ yadlurruhum, wa kânal-kâfiru ‘alâ rabbihî dhahîrâ
Mereka menyembah selain Allah apa yang tidak memberikan manfaat dan tidak (pula) mendatangkan mudarat kepada mereka. Orang kafir adalah penolong (bagi setan dalam berbuat durhaka) terhadap Tuhannya.
wa mâ arsalnâka illâ mubasysyiraw wa nadzîrâ
Tidaklah Kami mengutus engkau (Nabi Muhammad), kecuali sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan.
qul mâ as'alukum ‘alaihi min ajrin illâ man syâ'a ay yattakhidza ilâ rabbihî sabîlâ
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Aku tidak meminta imbalan apa pun dari kamu (dalam menyampaikan risalah itu), kecuali (mengharapkan agar) orang mau mengambil jalan kepada Tuhannya.”
wa tawakkal ‘alal-ḫayyilladzî lâ yamûtu wa sabbiḫ biḫamdih, wa kafâ bihî bidzunûbi ‘ibâdihî khabîrâ
Bertawakallah kepada (Allah) Yang Mahahidup yang tidak mati dan bertasbihlah dengan memuji-Nya. Cukuplah Dia Maha Mengetahui dosa hamba-hamba-Nya.
alladzî khalaqas-samâwâti wal-ardla wa mâ bainahumâ fî sittati ayyâmin tsummastawâ ‘alal-‘arsy, ar-raḫmânu fas'al bihî khabîrâ
(Allah) yang menciptakan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa. Kemudian, Dia berkuasa atas ʻArasy. (Dialah) Yang Maha Pengasih. Tanyakanlah (wahai Nabi Muhammad) tentang Dia (Allah) kepada Yang Maha Mengetahui (Allah).
wa idzâ qîla lahumusjudû lir-raḫmâni qâlû wa mar-raḫmânu a nasjudu limâ ta'murunâ wa zâdahum nufûrâ
Apabila dikatakan kepada mereka, “Sujudlah kepada Yang Maha Pengasih.” Mereka menjawab, “Siapakah Yang Maha Pengasih itu? Apakah kami bersujud kepada (Allah) yang engkau (Nabi Muhammad) perintahkan kepada kami?” (Perintah) itu menambah mereka makin lari (dari kebenaran).
tabârakalladzî ja‘ala fis-samâ'i burûjaw wa ja‘ala fîhâ sirâjaw wa qamaram munîrâ
Maha memberkahi (Allah) yang menjadikan gugusan bintang di langit serta padanya pelita (matahari) dan bulan yang bercahaya.
wa huwalladzî ja‘alal-laila wan-nahâra khilfatal liman arâda ay yadzdzakkara au arâda syukûrâ
Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau ingin bersyukur.
wa ‘ibâdur-raḫmânilladzîna yamsyûna ‘alal-ardli haunaw wa idzâ khâthabahumul-jâhilûna qâlû salâmâ
Hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan, “Salam.”
walladzîna yabîtûna lirabbihim sujjadaw wa qiyâmâ
Dan, orang-orang yang mengisi waktu malamnya untuk beribadah kepada Tuhan mereka dengan bersujud dan berdiri.
walladzîna yaqûlûna rabbanashrif ‘annâ ‘adzâba jahannama inna ‘adzâbahâ kâna gharâmâ
Dan, orang-orang yang berkata, “Wahai Tuhan kami, jauhkanlah azab Jahanam dari kami (karena) sesungguhnya azabnya itu kekal.”
innahâ sâ'at mustaqarraw wa muqâmâ
Sesungguhnya ia (Jahanam itu) adalah tempat menetap dan kediaman yang paling buruk.
walladzîna idzâ anfaqû lam yusrifû wa lam yaqturû wa kâna baina dzâlika qawâmâ
Dan, orang-orang yang apabila berinfak tidak berlebihan dan tidak (pula) kikir. (Infak mereka) adalah pertengahan antara keduanya.
walladzîna lâ yad‘ûna ma‘allâhi ilâhan âkhara wa lâ yaqtulûnan-nafsallatî ḫarramallâhu illâ bil-ḫaqqi wa lâ yaznûn, wa may yaf‘al dzâlika yalqa atsâmâ
Dan, orang-orang yang tidak mempersekutukan Allah dengan sembahan lain, tidak membunuh orang yang diharamkan Allah kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina. Siapa yang melakukan demikian itu niscaya mendapat dosa.
yudlâ‘af lahul-‘adzâbu yaumal-qiyâmati wa yakhlud fîhî muhânâ
Baginya akan dilipatgandakan azab pada hari Kiamat dan dia kekal dengan azab itu dalam kehinaan.
illâ man tâba wa âmana wa ‘amila ‘amalan shâliḫan fa ulâ'ika yubaddilullâhu sayyi'âtihim ḫasanât, wa kânallâhu ghafûrar raḫîmâ
Kecuali, orang yang bertobat, beriman, dan beramal saleh. Maka, Allah mengganti kejahatan mereka (dengan) kebaikan. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
wa man tâba wa ‘amila shâliḫan fa innahû yatûbu ilallâhi matâbâ
Siapa yang bertobat dan beramal saleh sesungguhnya dia bertobat kepada Allah dengan tobat yang sebenarnya.
walladzîna lâ yasy-hadûnaz-zûra wa idzâ marrû bil-laghwi marrû kirâmâ
Dan, orang-orang yang tidak memberikan kesaksian palsu serta apabila mereka berpapasan dengan (orang-orang) yang berbuat sia-sia, mereka berlalu dengan menjaga kehormatannya.
walladzîna idzâ dzukkirû bi'âyâti rabbihim lam yakhirrû ‘alaihâ shummaw wa ‘umyânâ
Dan, orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Tuhan mereka tidak bersikap sebagai orang-orang yang tuli dan buta.
walladzîna yaqûlûna rabbanâ hab lanâ min azwâjinâ wa dzurriyyâtinâ qurrata a‘yuniw waj‘alnâ lil-muttaqîna imâmâ
Dan, orang-orang yang berkata, “Wahai Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami penyejuk mata dari pasangan dan keturunan kami serta jadikanlah kami sebagai pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.”
ulâ'ika yujzaunal-ghurfata bimâ shabarû wa yulaqqauna fîhâ taḫiyyataw wa salâmâ
Mereka itu akan diberi balasan dengan tempat yang tinggi (dalam surga) atas kesabaran mereka serta di sana mereka akan disambut dengan penghormatan dan salam.
khâlidîna fîhâ, ḫasunat mustaqarraw wa muqâmâ
Mereka kekal di dalamnya. (Surga) itu sebaik-baik tempat menetap dan kediaman.
qul mâ ya‘ba'u bikum rabbî lau lâ du‘â'ukum, fa qad kadzdzabtum fa saufa yakûnu lizâmâ
Katakanlah (Nabi Muhammad kepada orang-orang musyrik), “Tuhanku tidak akan mengindahkanmu kalau tidak karena ibadahmu. Padahal, sungguh kamu telah mendustakan-Nya? Oleh karena itu, kelak (azab) pasti (menimpamu).”
Surah Makkiyah · Juz 19 · 227 verses
The Poets
thâ sîm mîm
Ṭā Sīn Mīm.
tilka âyâtul-kitâbil-mubîn
Itulah ayat-ayat Kitab (Al-Qur’an) yang jelas.
la‘allaka bâkhi‘un nafsaka allâ yakûnû mu'minîn
Boleh jadi engkau (Nabi Muhammad) akan membinasakan dirimu (dengan kesedihan) karena mereka (penduduk Makkah) tidak beriman.
in nasya' nunazzil ‘alaihim minas-samâ'i âyatan fa dhallat a‘nâquhum lahâ khâdli‘în
Jika berkehendak, niscaya Kami turunkan bukti (mukjizat) kepada mereka dari langit sehingga tengkuk mereka selalu tunduk kepadanya.
wa mâ ya'tîhim min dzikrim minar-raḫmâni muḫdatsin illâ kânû ‘an-hu mu‘ridlîn
Tidak datang kepada mereka suatu peringatan baru (ayat Al-Qur’an) dari Tuhan Yang Maha Pengasih, kecuali mereka selalu berpaling darinya.
fa qad kadzdzabû fa saya'tîhim ambâ'u mâ kânû bihî yastahzi'ûn
Sungguh, mereka telah mendustakan (Al-Qur’an). Maka, kelak akan datang kepada mereka (kebenaran) berita-berita mengenai apa (azab) yang selalu mereka perolok-olokkan.
a wa lam yarau ilal-ardli kam ambatnâ fîhâ ming kulli zaujing karîm
Apakah mereka tidak memperhatikan bumi, betapa banyak Kami telah menumbuhkan di sana segala jenis (tanaman) yang tumbuh baik?
inna fî dzâlika la'âyah, wa mâ kâna aktsaruhum mu'minîn
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman.
wa inna rabbaka lahuwal-‘azîzur-raḫîm
Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang benar-benar Mahaperkasa lagi Maha Penyayang.
wa idz nâdâ rabbuka mûsâ ani'til-qaumadh-dhâlimîn
(Ingatlah) ketika Tuhanmu menyeru Musa (dengan firman-Nya), “Datangilah kaum yang zalim itu.
qauma fir‘aûn, alâ yattaqûn
(Yaitu) kaum Fir‘aun. Mengapa mereka tidak bertakwa?”
qâla rabbi innî akhâfu ay yukadzdzibûn
Dia (Musa) berkata, “Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku takut mereka akan mendustakanku.
wa yadlîqu shadrî wa lâ yanthaliqu lisânî fa arsil ilâ hârûn
Dadaku terasa sempit dan lidahku kelu. Maka, utuslah Harun (bersamaku).
wa lahum ‘alayya dzambun fa akhâfu ay yaqtulûn
Aku berdosa terhadap mereka. Maka, aku takut mereka akan membunuhku.”
qâla kallâ, fadz-habâ bi'âyâtinâ innâ ma‘akum mustami‘ûn
Dia (Allah) berfirman, “Tidak (mereka tidak akan dapat membunuhmu). Maka, pergilah berdua dengan membawa ayat-ayat Kami (mukjizat). Sesungguhnya Kami menyertaimu mendengarkan (apa yang mereka katakan).
fa'tiyâ fir‘auna fa qûlâ innâ rasûlu rabbil-‘âlamîn
Maka, datanglah berdua kepada Fir‘aun dan katakanlah, ‘Sesungguhnya kami adalah utusan Tuhan semesta alam.
an arsil ma‘anâ banî isrâ'îl
Lepaskanlah Bani Israil (pergi) bersama kami (menuju Baitulmaqdis).’”
qâla a lam nurabbika fînâ walîdaw wa labitsta fînâ min ‘umurika sinîn
Dia (Fir‘aun) berkata, “Bukankah kami telah mengasuhmu dalam lingkungan (keluarga) kami, waktu engkau masih bayi dan engkau tinggal bersama kami beberapa tahun dari umurmu.
wa fa‘alta fa‘latakallatî fa‘alta wa anta minal-kâfirîn
Engkau (Musa) telah melakukan (kesalahan berupa) perbuatan yang telah engkau lakukan (membunuh seseorang dari kaumku) dan engkau termasuk orang yang ingkar (terhadap kebaikan dan ketuhananku).”
qâla fa‘altuhâ idzaw wa ana minadl-dlâllîn
Dia (Musa) berkata, “Aku telah melakukannya. Kalau begitu, saat itu aku termasuk orang-orang yang sesat.
fa farartu mingkum lammâ khiftukum fa wahaba lî rabbî ḫukmaw wa ja‘alanî minal-mursalîn
Kemudian, aku lari darimu karena takut kepadamu. Lalu, Tuhanku menganugerahkan kepadaku hukum (ilmu dan kearifan) dan menjadikanku salah seorang rasul.
wa tilka ni‘matun tamunnuhâ ‘alayya an ‘abbatta banî isrâ'îl
Itulah kenikmatan yang engkau berikan kepadaku, (sedangkan) engkau memperbudak Bani Israil.”
qâla fir‘aunu wa mâ rabbul-‘âlamîn
Fir‘aun berkata, “Siapa Tuhan semesta alam itu?”
qâla rabbus-samâwâti wal-ardli wa mâ bainahumâ, ing kuntum mûqinîn
Dia (Musa) menjawab, “Tuhan (pencipta dan pemelihara) langit, bumi, dan segala yang ada di antaranya jika kamu orang-orang yang yakin.”
qâla liman ḫaulahû alâ tastami‘ûn
Dia (Fir‘aun) berkata kepada orang-orang di sekitarnya, “Tidakkah kamu mendengar (apa yang dikatakannya)?”
qâla rabbukum wa rabbu âbâ'ikumul-awwalîn
Dia (Musa) berkata, “(Dia) Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu terdahulu.”
qâla inna rasûlakumulladzî ursila ilaikum lamajnûn
Dia (Fir‘aun) berkata, “Sesungguhnya rasulmu yang diutus kepadamu benar-benar gila.”
qâla rabbul-masyriqi wal-maghribi wa mâ bainahumâ, ing kuntum ta‘qilûn
Dia (Musa) berkata, “(Dia) Tuhan (yang menguasai) timur dan barat serta segala yang ada di antaranya jika kamu mengerti.”
qâla la'inittakhadzta ilâhan ghairî la'aj‘alannaka minal-masjûnîn
Dia (Fir‘aun) berkata, “Sungguh, jika engkau menyembah Tuhan selainku, niscaya aku benar-benar akan menjadikanmu termasuk orang-orang yang dipenjarakan.”
qâla a walau ji'tuka bisyai'im mubîn
Dia (Musa) berkata, “Apakah (engkau akan melakukan itu) sekalipun aku mendatangkan kepadamu sesuatu (bukti) yang jelas?”
qâla fa'ti bihî ing kunta minash-shâdiqîn
Dia (Fir‘aun) berkata, “Datangkanlah (bukti yang jelas) itu jika engkau termasuk orang-orang yang benar!”
fa alqâ ‘ashâhu fa idzâ hiya tsu‘bânum mubîn
Maka, dia (Musa) melemparkan tongkatnya, tiba-tiba ia (tongkat itu) menjadi ular besar yang nyata.
wa naza‘a yadahû fa idzâ hiya baidlâ'u lin-nâdhirîn
Dia menarik tangannya, tiba-tiba ia (tangan itu) menjadi putih (bercahaya) bagi orang-orang yang melihat(-nya).
qâla lil-mala'i ḫaulahû inna hâdzâ lasâḫirun ‘alîm
Dia (Fir‘aun) berkata kepada para pemuka di sekitarnya, “Sesungguhnya dia (Musa) ini benar-benar seorang penyihir yang sangat pandai.
yurîdu ay yukhrijakum min ardlikum bisiḫrihî fa mâdzâ ta'murûn
Dia hendak mengeluarkanmu dari negerimu dengan sihirnya. Maka, apa yang kamu sarankan?”
qâlû arjih wa akhâhu wab‘ats fil-madâ'ini ḫâsyirîn
Mereka berkata, “Tahanlah (untuk sementara) dia dan saudaranya serta utuslah ke seluruh negeri orang-orang yang akan mengumpulkan (penyihir).
ya'tûka bikulli saḫḫârin ‘alîm
Mereka akan mendatangkan kepadamu semua penyihir yang sangat pandai.”
fa jumi‘as-saḫaratu limîqâti yaumim ma‘lûm
Maka, dikumpulkanlah para penyihir pada waktu (yang ditetapkan) pada hari yang telah ditentukan.
wa qîla lin-nâsi hal antum mujtami‘ûn
Lalu, diumumkan kepada orang banyak, “Apakah kamu semua sudah berkumpul?
la‘allanâ nattabi‘us-saḫarata ing kânû humul-ghâlibîn
(Tujuannya) supaya kita mengikuti para penyihir itu jika mereka jadi para pemenang.”
fa lammâ jâ'as-saḫaratu qâlû lifir‘auna a inna lanâ la'ajran ing kunnâ naḫnul-ghâlibîn
Maka, ketika para penyihir datang, mereka berkata kepada Fir‘aun, “Apakah kami benar-benar akan memperoleh imbalan besar jika kami yang menjadi pemenang?”
qâla na‘am wa innakum idzal laminal-muqarrabîn
Dia (Fir‘aun) menjawab, “Ya, bahkan kamu pasti akan menjadi orang-orang yang dekat (kepadaku).”
qâla lahum mûsâ alqû mâ antum mulqûn
Musa berkata kepada mereka, “Lemparkanlah apa yang hendak kamu lemparkan!”
fa alqau ḫibâlahum wa ‘ishiyyahum wa qâlû bi‘izzati fir‘auna innâ lanaḫnul-ghâlibûn
Lalu, mereka melemparkan tali-tali dan tongkat-tongkat mereka seraya berkata, “Demi kekuasaan Fir‘aun, sesungguhnya kamilah yang benar-benar sebagai pemenang.”
fa alqâ mûsâ ‘ashâhu fa idzâ hiya talqafu mâ ya'fikûn
Kemudian, Musa melemparkan tongkatnya, tiba-tiba ia (tongkatnya yang sudah menjadi ular) menelan segala yang mereka ada-adakan itu.
fa ulqiyas-saḫaratu sâjidîn
Maka, tersungkurlah para penyihir itu (dalam keadaan) bersujud.
qâlû âmannâ birabbil-‘âlamîn
Mereka berkata, “Kami beriman kepada Tuhan semesta alam,
rabbi mûsâ wa hârûn
(yaitu) Tuhannya Musa dan Harun.”
qâla âmantum lahû qabla an âdzana lakum, innahû lakabîrukumulladzî ‘allamakumus-siḫr, fa lasaufa ta‘lamûn, la'uqaththi‘anna aidiyakum wa arjulakum min khilâfiw wa la'ushallibannakum ajma‘în
Dia (Fir‘aun) berkata, “Apakah kamu sekalian beriman kepadanya (Musa) sebelum aku mengizinkanmu? Sesungguhnya dia benar-benar pemimpinmu yang mengajarkan sihir kepadamu. Maka, kamu tentu akan tahu (akibat perbuatanmu). Pasti kupotong tangan dan kakimu secara bersilang dan benar-benar akan kusalib kamu semua.”
qâlû lâ dlaira innâ ilâ rabbinâ mungqalibûn
Mereka menjawab, “Tidak ada yang kami takutkan. Sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami.
innâ nathma‘u ay yaghfira lanâ rabbunâ khathâyânâ ang kunnâ awwalal-mu'minîn
Sesungguhnya kami sangat menginginkan agar Tuhan kami mengampuni kesalahan-kesalahan kami karena kami adalah orang-orang yang pertama menjadi mukmin.”
wa auḫainâ ilâ mûsâ an asri bi‘ibâdî innakum muttaba‘ûn
Kami wahyukan (perintahkan) kepada Musa, “Pergilah pada malam hari dengan hamba-hamba-Ku (Bani Israil). Sesungguhnya kamu pasti akan diikuti.”
fa arsala fir‘aunu fil-madâ'ini ḫâsyirîn
Lalu, Fir‘aun mengirimkan orang ke kota-kota untuk mengumpulkan (bala tentaranya).
inna hâ'ulâ'i lasyirdzimatung qalîlûn
(Fir‘aun berkata,) “Sesungguhnya mereka (Bani Israil) hanyalah sekelompok kecil.
wa innahum lanâ laghâ'idhûn
Sesungguhnya mereka telah membuat kita marah.
wa innâ lajamî‘un ḫâdzirûn
Sesungguhnya kita semua benar-benar harus selalu waspada.”
fa akhrajnâhum min jannâtiw wa ‘uyûn
Kami keluarkan mereka (Fir‘aun dan kaumnya) dari (negeri mereka yang mempunyai) taman, mata air,
wa kunûziw wa maqâming karîm
harta kekayaan, dan tempat tinggal yang bagus.
kadzâlik, wa auratsnâhâ banî isrâ'îl
Demikianlah, dan Kami wariskan semuanya kepada Bani Israil.
fa atba‘ûhum musyriqîn
Lalu, (Fir‘aun dan bala tentaranya dapat) menyusul mereka pada waktu matahari terbit.
fa lammâ tarâ'al-jam‘âni qâla ash-ḫâbu mûsâ innâ lamudrakûn
Ketika kedua golongan itu saling melihat, para pengikut Musa berkata, “Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul.”
qâla kallâ, inna ma‘iya rabbî sayahdîn
Dia (Musa) berkata, “Tidak! Sesungguhnya Tuhanku bersamaku. Dia akan menunjukiku.”
fa auḫainâ ilâ mûsâ anidlrib bi‘ashâkal-baḫr, fanfalaqa fa kâna kullu firqing kath-thaudil-‘adhîm
Lalu, Kami wahyukan kepada Musa, “Pukullah laut dengan tongkatmu itu.” Maka, terbelahlah (laut itu) dan setiap belahan seperti gunung yang sangat besar.
wa azlafnâ tsammal-âkharîn
Di sanalah Kami dekatkan kelompok yang lain.
wa anjainâ mûsâ wa mam ma‘ahû ajma‘în
Kami selamatkan Musa dan semua orang yang bersamanya.
tsumma aghraqnal-âkharîn
Kemudian, Kami tenggelamkan kelompok yang lain.
inna fî dzâlika la'âyah, wa mâ kâna aktsaruhum mu'minîn
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman.
wa inna rabbaka lahuwal-‘azîzur-raḫîm
Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang benar-benar Mahaperkasa lagi Maha Penyayang.
watlu ‘alaihim naba'a ibrâhîm
Bacakanlah kepada mereka berita Ibrahim.
idz qâla li'abîhi wa qaumihî mâ ta‘budûn
Ketika dia (Ibrahim) berkata kepada bapak dan kaumnya, “Apa yang kamu sembah?”
qâlû na‘budu ashnâman fa nadhallu lahâ ‘âkifîn
Mereka menjawab, “Kami menyembah berhala-berhala dan senantiasa tekun menyembahnya.”
qâla hal yasma‘ûnakum idz tad‘ûn
Dia (Ibrahim) berkata, “Apakah mereka mendengarmu ketika kamu berdoa (kepadanya)?
au yanfa‘ûnakum au yadlurrûn
Atau, (dapatkah) mereka memberi manfaat atau mudarat kepadamu?”
qâlû bal wajadnâ âbâ'anâ kadzâlika yaf‘alûn
Mereka menjawab, “Tidak, tetapi kami mendapati nenek moyang kami berbuat begitu.”
qâla a fa ra'aitum mâ kuntum ta‘budûn
Dia (Ibrahim) berkata, “Apakah kamu memperhatikan apa yang selalu kamu sembah?
antum wa âbâ'ukumul-aqdamûn
Kamu dan nenek moyangmu terdahulu?
fa innahum ‘aduwwul lî illâ rabbal-‘âlamîn
Sesungguhnya mereka itu adalah musuhku, lain halnya Tuhan pemelihara semesta alam.
alladzî khalaqanî fa huwa yahdîn
(Allah) yang telah menciptakanku. Maka, Dia (pula) yang memberi petunjuk kepadaku.
walladzî huwa yuth‘imunî wa yasqîn
Dia (pula) yang memberiku makan dan minum.
wa idzâ maridltu fa huwa yasyfîn
Apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkanku.
walladzî yumîtunî tsumma yuḫyîn
(Dia) yang akan mematikanku, kemudian menghidupkanku (kembali).
walladzî athma‘u ay yaghfira lî khathî'atî yaumad-dîn
(Dia) yang sangat kuinginkan untuk mengampuni kesalahanku pada hari Pembalasan.”
rabbi hab lî ḫukmaw wa al-ḫiqnî bish-shâliḫîn
(Ibrahim berdoa,) “Wahai Tuhanku, berikanlah kepadaku hukum (ilmu dan hikmah) dan pertemukanlah aku dengan orang-orang saleh.
waj‘al lî lisâna shidqin fil-âkhirîn
Jadikanlah aku sebagai buah tutur yang baik di kalangan orang-orang (yang datang) kemudian.
waj‘alnî miw waratsati jannatin-na‘îm
Jadikanlah aku termasuk orang yang mewarisi surga yang penuh kenikmatan.
waghfir li'abî innahû kâna minadl-dlâllîn
Ampunilah ayahku! Sesungguhnya dia termasuk orang-orang sesat.
wa lâ tukhzinî yauma yub‘atsûn
Janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan.
yauma lâ yanfa‘u mâluw wa lâ banûn
(Yaitu) pada hari ketika tidak berguna (lagi) harta dan anak-anak.
illâ man atallâha biqalbin salîm
Kecuali, orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.”
wa uzlifatil-jannatu lil-muttaqîn
Surga didekatkan kepada orang-orang yang bertakwa.
wa burrizatil-jaḫîmu lil-ghâwîn
(Neraka) Jahim diperlihatkan dengan jelas kepada orang-orang yang sesat.
wa qîla lahum aina mâ kuntum ta‘budûn
Dikatakan kepada mereka, “Di mana berhala-berhala yang selalu kamu sembah
min dûnillâh, hal yanshurûnakum au yantashirûn
selain Allah? Dapatkah mereka menolongmu atau menolong dirinya sendiri?”
fakubkibû fîhâ hum wal-ghâwûn
Mereka (sesembahan itu) dijungkirbalikkan di dalamnya (neraka) bersama orang-orang yang sesat.
wa junûdu iblîsa ajma‘ûn
(Begitu pula) bala tentara Iblis (dan) semuanya (dijungkirbalikkan).
qâlû wa hum fîhâ yakhtashimûn
Mereka (orang-orang sesat) berkata sambil bertengkar di dalamnya (neraka),
tallâhi ing kunnâ lafî dlalâlim mubîn
“Demi Allah, sesungguhnya kami dahulu (di dunia) benar-benar dalam kesesatan yang nyata.
idz nusawwîkum birabbil-‘âlamîn
(Yaitu) ketika kami mempersamakan kamu (berhala-berhala) dengan Tuhan semesta alam.
wa mâ adlallanâ illal-mujrimûn
Tidak ada yang menyesatkan kami, kecuali para pendosa.
fa mâ lanâ min syâfi‘în
Tidak ada pemberi syafaat (penolong) untuk kami.
wa lâ shadîqin ḫamîm
Tidak pula ada teman akrab.
falau anna lanâ karratan fa nakûna minal-mu'minîn
Seandainya dapat kembali (ke dunia), niscaya kami menjadi orang-orang yang beriman.”
inna fî dzâlika la'âyah, wa mâ kâna aktsaruhum mu'minîn
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman.
wa inna rabbaka lahuwal-‘azîzur-raḫîm
Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang benar-benar Mahaperkasa lagi Maha Penyayang.
kadzdzabat qaumu nûḫinil-mursalîn
Kaum Nuh telah mendustakan para rasul.
idz qâla lahum akhûhum nûḫun alâ tattaqûn
Ketika saudara mereka, Nuh, berkata kepada mereka, “Mengapa kamu tidak bertakwa?
innî lakum rasûlun amîn
Sesungguhnya aku adalah seorang rasul tepercaya (yang diutus) kepadamu.
fattaqullâha wa athî‘ûn
Maka, bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.
wa mâ as'alukum ‘alaihi min ajr, in ajriya illâ ‘alâ rabbil-‘âlamîn
Aku tidak meminta imbalan kepadamu atas (ajakan) itu. Imbalanku tidak lain, kecuali dari Tuhan semesta alam.
fattaqullâha wa athî‘ûn
Maka, bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.”
qâlû a nu'minu laka wattaba‘akal-ardzalûn
Mereka berkata, “Apakah kami harus beriman kepadamu, padahal yang mengikutimu adalah orang-orang hina?”
qâla wa mâ ‘ilmî bimâ kânû ya‘malûn
Dia (Nuh) menjawab, “Apa pengetahuanku tentang apa yang biasa mereka kerjakan?
in ḫisâbuhum illâ ‘alâ rabbî lau tasy‘urûn
Perhitungan (amal) mereka tidak lain, kecuali ada pada Tuhanku jika kamu menyadari.
wa mâ ana bithâridil-mu'minîn
Aku tidak akan mengusir orang-orang yang beriman.
in ana illâ nadzîrum mubîn
Aku tidak lain, kecuali pemberi peringatan yang jelas.”
qâlû la'il lam tantahi yâ nûḫu latakûnanna minal-marjûmîn
Mereka berkata, “Wahai Nuh, jika tidak berhenti (dalam berdakwah), niscaya engkau akan termasuk orang-orang yang dirajam.”
qâla rabbi inna qaumî kadzdzabûn
Dia (Nuh) berkata, “Wahai Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah mendustakanku.
faftaḫ bainî wa bainahum fat-ḫaw wa najjinî wa mam ma‘iya minal-mu'minîn
Maka, berilah keputusan antara aku dan mereka serta selamatkanlah aku dan orang-orang mukmin bersamaku.”
fa anjainâhu wa mam ma‘ahû fil-fulkil-masy-ḫûn
Kami selamatkan dia (Nuh) dan orang-orang yang bersamanya di dalam kapal yang penuh muatan.
tsumma aghraqnâ ba‘dul-bâqîn
Kemudian, Kami tenggelamkan orang-orang yang tersisa (tidak beriman) setelah itu.
inna fî dzâlika la'âyah, wa mâ kâna aktsaruhum mu'minîn
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman.
wa inna rabbaka lahuwal-‘azîzur-raḫîm
Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang benar-benar Mahaperkasa lagi Maha Penyayang.
kadzdzabat ‘âdunil-mursalîn
(Kaum) ‘Ad telah mendustakan para rasul.
idz qâla lahum akhûhum hûdun alâ tattaqûn
Ketika saudara mereka, Hud, berkata kepada mereka, “Mengapa kamu tidak bertakwa?
innî lakum rasûlun amîn
Sesungguhnya aku adalah seorang rasul tepercaya (yang diutus) kepadamu.
fattaqullâha wa athî‘ûn
Maka, bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.
wa mâ as'alukum ‘alaihi min ajr, in ajriya illâ ‘alâ rabbil-‘âlamîn
Aku tidak meminta imbalan kepadamu atas (ajakan) itu. Imbalanku tidak lain, kecuali dari Tuhan semesta alam.
a tabnûna bikulli rî‘in âyatan ta‘batsûn
Apakah kamu mendirikan istana di setiap tanah yang tinggi untuk kemegahan tanpa ditempati?
wa tattakhidzûna mashâni‘a la‘allakum takhludûn
Kamu (juga) membuat benteng-benteng dengan harapan hidup kekal?
wa idzâ bathasytum bathasytum jabbârîn
Apabila menyiksa, kamu lakukan secara kejam dan bengis.
fattaqullâha wa athî‘ûn
Maka, bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.
wattaqulladzî amaddakum bimâ ta‘lamûn
Bertakwalah kepada (Allah) yang telah menganugerahkan kepadamu apa yang kamu ketahui.
amaddakum bi'an‘âmiw wa banîn
Dia (Allah) telah menganugerahkan hewan ternak dan anak-anak kepadamu.
wa jannâtiw wa ‘uyûn
(Dia juga menganugerahkan) kebun-kebun dan mata air.
innî akhâfu ‘alaikum ‘adzâba yaumin ‘adhîm
Sesungguhnya aku takut bahwa kamu akan ditimpa azab pada hari yang dahsyat.”
qâlû sawâ'un ‘alainâ a wa‘adhta am lam takum minal-wâ‘idhîn
Mereka menjawab, “Sama saja bagi kami, apakah engkau memberi nasihat atau tidak memberi nasihat.
in hâdzâ illâ khuluqul-awwalîn
(Agama kami) ini tidak lain adalah agama orang-orang terdahulu.
wa mâ naḫnu bimu‘adzdzabîn
Kami (sama sekali) tidak akan diazab.”
fa kadzdzabûhu fa ahlaknâhum, inna fî dzâlika la'âyah, wa mâ kâna aktsaruhum mu'minîn
Maka, mereka mendustakannya (Hud). Lalu, Kami membinasakan mereka. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman.
wa inna rabbaka lahuwal-‘azîzur-raḫîm
Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang benar-benar Mahaperkasa lagi Maha Penyayang.
kadzdzabat tsamûdul-mursalîn
(Kaum) Samud telah mendustakan para rasul.
idz qâla lahum akhûhum shâliḫun alâ tattaqûn
Ketika saudara mereka, Saleh, berkata kepada mereka, “Mengapa kamu tidak bertakwa?
innî lakum rasûlun amîn
Sesungguhnya aku adalah seorang rasul tepercaya (yang diutus) kepadamu.
fattaqullâha wa athî‘ûn
Maka, bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.
wa mâ as'alukum ‘alaihi min ajr, in ajriya illâ ‘alâ rabbil-‘âlamîn
Aku tidak meminta imbalan kepadamu atas (ajakan) itu. Imbalanku tidak lain, kecuali dari Tuhan semesta alam.
a tutrakûna fî mâ hâhunâ âminîn
Apakah kamu (mengira) akan dibiarkan tinggal di sini (negerimu) dengan aman?
fî jannâtiw wa ‘uyûn
(Yaitu,) di dalam kebun-kebun dan mata air.
wa zurû‘iw wa nakhlin thal‘uhâ hadlîm
Dan, tanam-tanaman serta pohon kurma yang mayangnya lembut.
wa tan-ḫitûna minal-jibâli buyûtan fârihîn
Kamu pahat dengan terampil sebagian gunung-gunung untuk dijadikan rumah-rumah yang mewah.
fattaqullâha wa athî‘ûn
Maka, bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.
wa lâ tuthî‘û amral-musrifîn
Janganlah mengikuti perintah orang-orang yang melampaui batas.
alladzîna yufsidûna fil-ardli wa lâ yushliḫûn
(Mereka) yang berbuat kerusakan di bumi dan tidak melakukan perbaikan.”
qâlû innamâ anta minal-musaḫḫarîn
Mereka berkata, “Sesungguhnya engkau hanyalah termasuk orang-orang yang terkena sihir.
mâ anta illâ basyarum mitslunâ fa'ti bi'âyatin ing kunta minash-shâdiqîn
Engkau tidak lain hanyalah manusia seperti kami. Maka, datangkanlah tanda (mukjizat) jika engkau termasuk orang-orang yang benar.”
qâla hâdzihî nâqatul lahâ syirbuw wa lakum syirbu yaumim ma‘lûm
Dia (Saleh) menjawab, “Ini seekor unta betina. Dia punya (giliran) minum dan kamu punya (giliran) minum (pula) pada hari yang ditentukan.
wa lâ tamassûhâ bisû'in fa ya'khudzakum ‘adzâbu yaumin ‘adhîm
Janganlah menyentuhnya dengan suatu kejahatan. Nanti kamu akan ditimpa azab pada hari yang dahsyat.”
fa ‘aqarûhâ fa ashbaḫû nâdimîn
Mereka membunuhnya, lalu mereka menjadi orang-orang yang menyesal.
fa akhadzahumul-‘adzâb, inna fî dzâlika la'âyah, wa mâ kâna aktsaruhum mu'minîn
Mereka ditimpa azab. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman.
wa inna rabbaka lahuwal-‘azîzur-raḫîm
Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang benar-benar Mahaperkasa lagi Maha Penyayang.
kadzdzabat qaumu lûthinil-mursalîn
Kaum Lut telah mendustakan para rasul.
idz qâla lahum akhûhum lûthun alâ tattaqûn
Ketika saudara mereka, Lut, berkata kepada mereka, “Mengapa kamu tidak bertakwa?”
innî lakum rasûlun amîn
Sesungguhnya aku adalah seorang rasul tepercaya (yang diutus) kepadamu.
fattaqullâha wa athî‘ûn
Maka, bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.
wa mâ as'alukum ‘alaihi min ajrin in ajriya illâ ‘alâ rabbil-‘âlamîn
Aku tidak meminta imbalan kepadamu atas (ajakan) itu. Imbalanku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam.
a ta'tûnadz-dzukrâna minal-‘âlamîn
Mengapa kamu mendatangi jenis laki-laki di antara manusia (berbuat homoseks)?
wa tadzarûna mâ khalaqa lakum rabbukum min azwâjikum, bal antum qaumun ‘âdûn
Sementara itu, kamu tinggalkan (perempuan) yang diciptakan Tuhan untuk menjadi istri-istrimu? Kamu (memang) kaum yang melampaui batas.”
qâlû la'il lam tantahi yâ lûthu latakûnanna minal-mukhrajîn
Mereka menjawab, “Wahai Lut, jika tidak berhenti (melarang kami), niscaya engkau benar-benar akan termasuk orang-orang yang diusir.”
qâla innî li‘amalikum minal-qâlîn
Dia (Lut) berkata, “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang sangat benci terhadap perbuatanmu.”
rabbi najjinî wa ahlî mimmâ ya‘malûn
(Lut berdoa,) “Wahai Tuhanku, selamatkanlah aku dan keluargaku dari apa yang mereka perbuat.”
fa najjainâhu wa ahlahû ajma‘în
Maka, Kami selamatkan dia bersama semua keluarganya,
illâ ‘ajûzan fil-ghâbirîn
kecuali seorang perempuan tua (istrinya) yang termasuk golongan (orang-orang kafir) yang tertinggal.
tsumma dammarnal-âkharîn
Kemudian, Kami binasakan yang lain.
wa amtharnâ ‘alaihim matharâ, fa sâ'a matharul-mundzarîn
Kami hujani mereka (dengan batu). Betapa buruk hujan yang menimpa orang-orang yang telah diberi peringatan itu.
inna fî dzâlika la'âyah, wa mâ kâna aktsaruhum mu'minîn
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman.
wa inna rabbaka lahuwal-‘azîzur-raḫîm
Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang benar-benar Mahaperkasa lagi Maha Penyayang.
kadzdzaba ash-ḫâbul-aikatil-mursalîn
Penduduk Aikah (Madyan) telah mendustakan para rasul.
idz qâla lahum syu‘aibun alâ tattaqûn
Ketika Syu‘aib berkata kepada mereka, “Mengapa kamu tidak bertakwa?
innî lakum rasûlun amîn
Sesungguhnya aku adalah seorang rasul tepercaya (yang diutus) kepadamu.
fattaqullâha wa athî‘ûn
Maka, bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.
wa mâ as'alukum ‘alaihi min ajrin in ajriya illâ ‘alâ rabbil-‘âlamîn
Aku tidak meminta imbalan kepadamu atas (ajakan) itu. Imbalanku tidak lain, kecuali dari Tuhan semesta alam.
auful-kaila wa lâ takûnû minal-mukhsirîn
Sempurnakanlah takaran dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang merugikan orang lain.
wa zinû bil-qisthâsil-mustaqîm
Timbanglah dengan timbangan yang benar.
wa lâ tabkhasun-nâsa asy-yâ'ahum wa lâ ta‘tsau fil-ardli mufsidîn
Janganlah kamu merugikan manusia dengan mengurangi hak-haknya dan janganlah membuat kerusakan di bumi.
wattaqulladzî khalaqakum wal-jibillatal-awwalîn
Bertakwalah kepada Allah yang telah menciptakanmu dan umat-umat yang terdahulu.”
qâlû innamâ anta minal-musaḫḫarîn
Mereka berkata, “Sesungguhnya engkau hanyalah termasuk orang-orang yang terkena sihir.
wa mâ anta illâ basyarum mitslunâ wa in nadhunnuka laminal-kâdzibîn
Engkau tidak lain hanyalah seorang manusia seperti kami dan sesungguhnya kami yakin bahwa engkau benar-benar termasuk para pembohong.
fa asqith ‘alainâ kisafam minas-samâ'i ing kunta minash-shâdiqîn
Maka, jatuhkanlah kepada kami kepingan-kepingan dari langit (agar kami binasa) jika engkau termasuk orang-orang yang benar.”
qâla rabbî a‘lamu bimâ ta‘malûn
Dia (Syu‘aib) berkata, “Tuhanku paling mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
fa kadzdzabûhu fa akhadzahum ‘adzâbu yaumidh-dhullah, innahû kâna ‘adzâba yaumin ‘adhîm
Lalu, mereka mendustakannya (Syu‘aib). Maka, mereka ditimpa azab pada hari yang berawan gelap. Sesungguhnya itu adalah azab hari yang dahsyat.
inna fî dzâlika la'âyah, wa mâ kâna aktsaruhum mu'minîn
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman.
wa inna rabbaka lahuwal-‘azîzur-raḫîm
Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang benar-benar Mahaperkasa lagi Maha Penyayang.
wa innahû latanzîlu rabbil-‘âlamîn
Sesungguhnya ia (Al-Qur’an) benar-benar diturunkan Tuhan semesta alam.
nazala bihir-rûḫul-amîn
Ia (Al-Qur’an) dibawa turun oleh Ruhulamin (Jibril).
‘alâ qalbika litakûna minal-mundzirîn
(Diturunkan) ke dalam hatimu (Nabi Muhammad) agar engkau menjadi salah seorang pemberi peringatan.
bilisânin ‘arabiyyim mubîn
(Diturunkan) dengan bahasa Arab yang jelas.
wa innahû lafî zuburil-awwalîn
Sesungguhnya ia (Al-Qur’an) benar-benar (disebut) dalam kitab-kitab orang terdahulu.
a wa lam yakul lahum âyatan ay ya‘lamahû ‘ulamâ'u banî isrâ'îl
Apakah tidak (cukup) menjadi bukti bagi mereka bahwa ia (Al-Qur’an) diketahui oleh para ulama Bani Israil?
walau nazzalnâhu ‘alâ ba‘dlil-a‘jamîn
Seandainya Kami menurunkannya kepada sebagian dari golongan non-Arab.
faqara'ahû ‘alaihim mâ kânû bihî mu'minîn
Lalu, dia membacakannya kepada mereka (orang-orang kafir), niscaya mereka tidak juga akan beriman kepadanya.
kadzâlika salaknâhu fî qulûbil-mujrimîn
Demikianlah, Kami masukkan (sifat dusta dan ingkar) ke dalam hati para pendurhaka.
lâ yu'minûna bihî ḫattâ yarawul-‘adzâbal-alîm
Mereka tidak akan beriman kepadanya hingga melihat azab yang pedih.
fa ya'tiyahum baghtataw wa hum lâ yasy‘urûn
Maka, datanglah ia (azab) kepada mereka secara tiba-tiba, sedangkan mereka tidak menyadarinya.
fa yaqûlû hal naḫnu mundharûn
Lalu, mereka berkata, “Apakah kami diberi penangguhan waktu?”
a fa bi‘adzâbinâ yasta‘jilûn
Bukankah mereka yang meminta agar azab Kami disegerakan?
a fa ra'aita im matta‘nâhum sinîn
Bagaimana pendapatmu jika kepada mereka Kami berikan kenikmatan hidup beberapa tahun?
tsumma jâ'ahum mâ kânû yû‘adûn
Kemudian, ia (azab) yang diancamkan datang kepada mereka.
mâ aghnâ ‘an-hum mâ kânû yumatta‘ûn
Niscaya kenikmatan yang mereka rasakan tidak berguna baginya.
wa mâ ahlaknâ ming qaryatin illâ lahâ mundzirûn
Kami tidak membinasakan suatu negeri, kecuali setelah ada pemberi peringatan kepadanya.
dzikrâ, wa mâ kunnâ dhâlimîn
(Hal itu) sebagai peringatan. Kami sekali-kali bukanlah orang-orang zalim.
wa mâ tanazzalat bihisy-syayâthîn
(Al-Qur’an) itu tidaklah dibawa turun oleh setan-setan.
wa mâ yambaghî lahum wa mâ yastathî‘ûn
Tidaklah pantas bagi mereka (membawa turun Al-Qur’an itu) dan mereka pun tidak akan sanggup.
innahum ‘anis-sam‘i lama‘zûlûn
Sesungguhnya mereka (setan-setan) benar-benar dijauhkan (dari berita langit).
fa lâ tad‘u ma‘allâhi ilâhan âkhara fa takûna minal-mu‘adzdzabîn
Maka, janganlah engkau (Nabi Muhammad) menyembah Tuhan lain bersama Allah. Nanti kamu termasuk orang-orang yang diazab.
wa andzir ‘asyîratakal-aqrabîn
Berilah peringatan kepada keluargamu yang terdekat.
wakhfidl janâḫaka limanittaba‘aka minal-mu'minîn
Rendahkanlah hatimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang mukmin.
fa in ‘ashauka fa qul innî barî'um mimmâ ta‘malûn
Jika mereka mendurhakaimu, katakanlah, “Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu kerjakan.”
wa tawakkal ‘alal-‘azîzir-raḫîm
Bertawakallah kepada (Allah) Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang.
alladzî yarâka ḫîna taqûm
(Dia) yang melihat ketika engkau berdiri (untuk salat).
wa taqallubaka fis-sâjidîn
Dan, (melihat) perubahan gerakan badanmu di antara orang-orang yang sujud.
innahû huwas-samî‘ul-‘alîm
Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
hal unabbi'ukum ‘alâ man tanazzalusy-syayâthîn
Maukah Aku beritakan kepadamu, kepada siapa setan-setan itu turun?
tanazzalu ‘alâ kulli affâkin atsîm
Mereka (setan) turun kepada setiap pendusta lagi banyak berdosa.
yulqûnas-sam‘a wa aktsaruhum kâdzibûn
Mereka menyampaikan hasil pendengarannya, sedangkan kebanyakan mereka adalah para pendusta.
wasy-syu‘arâ'u yattabi‘uhumul-ghâwûn
Para penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat.
a lam tara annahum fî kulli wâdiy yahîmûn
Tidakkah engkau melihat bahwa mereka merambah setiap lembah kepalsuan
wa annahum yaqûlûna mâ lâ yaf‘alûn
dan bahwa mereka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakan(-nya)?
illalladzîna âmanû wa ‘amilush-shâliḫâti wa dzakarullâha katsîraw wantasharû mim ba‘di mâ dhulimû, wa saya‘lamulladzîna dhalamû ayya mungqalabiy yangqalibûn
Kecuali (para penyair) yang beriman, beramal saleh, banyak mengingat Allah, dan bangkit membela (kebenaran) setelah terzalimi. Orang-orang yang zalim kelak akan mengetahui ke mana mereka akan kembali.
Surah Makkiyah · Juz 19 · 93 verses
The Ants
thâ sîn, tilka âyâtul-qur'âni wa kitâbim mubîn
Ṭā Sīn. Inilah ayat-ayat Al-Qur’an dan Kitab Suci yang jelas (kandungannya),
hudaw wa busyrâ lil-mu'minîn
(sebagai) petunjuk dan berita gembira bagi orang-orang mukmin,
alladzîna yuqîmûnash-shalâta wa yu'tûnaz-zakâta wa hum bil-âkhirati hum yûqinûn
(yaitu) orang-orang yang menegakkan salat, menunaikan zakat, dan meyakini adanya akhirat.
innalladzîna lâ yu'minûna bil-âkhirati zayyannâ lahum a‘mâlahum fa hum ya‘mahûn
Sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat, Kami jadikan terasa indah bagi mereka perbuatan-perbuatannya (yang buruk). Maka, mereka terombang-ambing (dalam kesesatan).
ulâ'ikalladzîna lahum sû'ul-‘adzâbi wa hum fil-âkhirati humul-akhsarûn
Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksaan buruk (di dunia) dan di akhirat mereka adalah orang-orang yang paling rugi.
wa innaka latulaqqal-qur'âna mil ladun ḫakîmin ‘alîm
Sesungguhnya engkau (Nabi Muhammad) benar-benar telah diberi Al-Qur’an dari sisi (Allah) Yang Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui.
idz qâla mûsâ li'ahlihî innî ânastu nârâ, sa'âtîkum min-hâ bikhabarin au âtîkum bisyihâbing qabasil la‘allakum tashthalûn
(Ingatlah) ketika Musa berkata kepada istrinya, “Sesungguhnya aku melihat api. Aku akan membawa kabar tentangnya kepadamu atau membawa suluh api (obor) agar kamu dapat menghangatkan badan (dekat api).”
fa lammâ jâ'ahâ nûdiya am bûrika man fin-nâri wa man ḫaulahâ, wa sub-ḫânallâhi rabbil-‘âlamîn
Maka, ketika tiba di sana (tempat api itu), dia diseru, “Orang yang berada di dekat api dan orang yang berada di sekitarnya telah diberkahi. Mahasuci Allah, Tuhan semesta alam.”
yâ mûsâ innahû anallâhul-‘azîzul-ḫakîm
(Allah berfirman,) “Wahai Musa, sesungguhnya Aku adalah Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.
wa alqi ‘ashâk, fa lammâ ra'âhâ tahtazzu ka'annahâ jânnuw wallâ mudbiraw wa lam yu‘aqqib, yâ mûsâ lâ takhaf, innî lâ yakhâfu ladayyal-mursalûn
Lemparkanlah tongkatmu!” Ketika (tongkat itu dilemparkan) Musa melihatnya bergerak-gerak seperti seekor ular kecil yang gesit, berlarilah dia sambil berbalik ke belakang tanpa menoleh. (Allah pun berfirman,) “Wahai Musa, jangan takut! Sesungguhnya di hadapan-Ku para rasul tidak perlu takut,
illâ man dhalama tsumma baddala ḫusnam ba‘da sû'in fa innî ghafûrur raḫîm
kecuali orang yang berlaku zalim yang kemudian mengganti keburukan(-nya) dengan kebaikan (bertobat). Sesungguhnya Aku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
wa adkhil yadaka fî jaibika takhruj baidlâ'a min ghairi sû'in fî tis‘i âyâtin ilâ fir‘auna wa qaumih, innahum kânû qauman fâsiqîn
Masukkanlah tanganmu ke leher bajumu, ia akan keluar (dalam keadaan bercahaya) putih bukan karena cacat. (Kedua mukjizat ini) termasuk sembilan macam mukjizat (yang akan ditunjukkan) kepada Fir‘aun dan kaumnya. Sesungguhnya mereka benar-benar kaum yang fasik.”
fa lammâ jâ'at-hum âyâtunâ mubshiratang qâlû hâdzâ siḫrum mubîn
Ketika mukjizat-mukjizat Kami yang terang itu sampai kepada mereka, mereka berkata, “Ini sihir yang nyata.”
wa jaḫadû bihâ wastaiqanat-hâ anfusuhum dhulmaw wa ‘uluwwâ, fandhur kaifa kâna ‘âqibatul-mufsidîn
Mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan, padahal hati mereka meyakini (kebenaran)-nya. Perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan.
wa laqad âtainâ dâwûda wa sulaimâna ‘ilmâ, wa qâlal-ḫamdu lillâhilladzî fadldlalanâ ‘alâ katsîrim min ‘ibâdihil-mu'minîn
Sungguh, Kami benar-benar telah menganugerahkan ilmu kepada Daud dan Sulaiman. Keduanya berkata, “Segala puji bagi Allah yang melebihkan kami daripada kebanyakan hamba-hamba-Nya yang mukmin.”
wa waritsa sulaimânu dâwûda wa qâla yâ ayyuhan-nâsu ‘ullimnâ manthiqath-thairi wa ûtînâ ming kulli syaî', inna hâdzâ lahuwal-fadllul-mubîn
Sulaiman telah mewarisi Daud dan dia (Sulaiman) berkata, “Wahai manusia, kami telah diajari (untuk memahami) bahasa burung dan kami dianugerahi segala sesuatu. Sesungguhnya (semua) ini benar-benar karunia yang nyata.”
wa ḫusyira lisulaimâna junûduhû minal-jinni wal-insi wath-thairi fa hum yûza‘ûn
Untuk Sulaiman dikumpulkanlah bala tentara dari (kalangan) jin, manusia, dan burung, lalu mereka diatur dengan tertib
hattâ idzâ atau ‘alâ wâdin-namli qâlat namlatuy yâ ayyuhan-namludkhulû masâkinakum, lâ yahthimannakum sulaimânu wa junûduhû wa hum lâ yasy‘urûn
hingga ketika sampai di lembah semut, ratu semut berkata, “Wahai para semut, masuklah ke dalam sarangmu agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan bala tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadarinya.”
fa tabassama dlâḫikam ming qaulihâ wa qâla rabbi auzi‘nî an asykura ni‘matakallatî an‘amta ‘alayya wa ‘alâ wâlidayya wa an a‘mala shâliḫan tardlâhu wa adkhilnî biraḫmatika fî ‘ibâdikash-shâliḫîn
Dia (Sulaiman) tersenyum seraya tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dia berdoa, “Ya Tuhanku, anugerahkanlah aku (ilham dan kemampuan) untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan untuk tetap mengerjakan kebajikan yang Engkau ridai. (Aku memohon pula) masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh.”
wa tafaqqadath-thaira fa qâla mâ liya lâ aral-hudhuda am kâna minal-ghâ'ibîn
Dia (Sulaiman) memeriksa (pasukan) burung, lalu berkata, “Mengapa aku tidak melihat Hudhud? Ataukah ia termasuk yang tidak hadir?
la'u‘adzdzibannahû ‘adzâban syadîdan au la'adzbaḫannahû au laya'tiyannî bisulthânim mubîn
Pasti akan kuhukum ia dengan hukuman yang berat atau kusembelih ia, kecuali jika ia datang kepadaku dengan alasan yang jelas.”
fa makatsa ghaira ba‘îdin fa qâla aḫathtu bimâ lam tuḫith bihî wa ji'tuka min saba'im binaba'iy yaqîn
Tidak lama kemudian (datanglah Hudhud), lalu ia berkata, “Aku telah mengetahui sesuatu yang belum engkau ketahui. Aku datang kepadamu dari negeri Saba’ membawa suatu berita penting yang meyakinkan (kebenarannya.)
innî wajattumra'atan tamlikuhum wa ûtiyat ming kulli syai'iu wa lahâ ‘arsyun ‘adhîm
Sesungguhnya aku mendapati ada seorang perempuan yang memerintah mereka (penduduk negeri Saba’). Dia dianugerahi segala sesuatu dan memiliki singgasana yang besar.
wajattuhâ wa qaumahâ yasjudûna lisy-syamsi min dûnillâhi wa zayyana lahumusy-syaithânu a‘mâlahum fa shaddahum ‘anis-sabîli fa hum lâ yahtadûn
Aku (burung Hudhud) mendapati dia dan kaumnya sedang menyembah matahari, bukan Allah. Setan telah menghiasi perbuatan-perbuatan (buruk itu agar terasa indah) bagi mereka sehingga menghalanginya dari jalan (Allah). Mereka tidak mendapat petunjuk.
allâ yasjudû lillâhilladzî yukhrijul-khab'a fis-samâwâti wal-ardli wa ya‘lamu mâ tukhfûna wa mâ tu‘linûn
Mereka (juga) tidak menyembah Allah yang mengeluarkan apa yang terpendam di langit dan di bumi dan yang mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan yang kamu nyatakan.
allâhu lâ ilâha illâ huwa rabbul-‘arsyil-‘adhîm
Allah, tidak ada tuhan melainkan Dia, Tuhan yang mempunyai ʻArasy yang agung.”
qâla sanandhuru a shadaqta am kunta minal-kâdzibîn
Dia (Sulaiman) berkata, “Kami akan memperhatikan apakah engkau benar atau termasuk orang-orang yang berdusta.
idz-hab bikitâbî hâdzâ fa alqih ilaihim tsumma tawalla ‘an-hum fandhur mâdzâ yarji‘ûn
Pergilah dengan (membawa) suratku ini, lalu jatuhkanlah kepada mereka. Kemudian berpalinglah dari mereka, lalu perhatikanlah apa yang mereka bicarakan!”
qâlat yâ ayyuhal-mala'u innî ulqiya ilayya kitâbung karîm
Dia (Balqis) berkata, “Wahai para pembesar, sesungguhnya telah disampaikan kepadaku sebuah surat yang penting.”
innahû min sulaimâna wa innahû bismillâhir-raḫmânir-raḫîm
Sesungguhnya (surat) itu berasal dari Sulaiman yang isinya (berbunyi,) “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
allâ ta‘lû ‘alayya wa'tûnî muslimîn
Janganlah engkau berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri!”
qâlat yâ ayyuhal-mala'u aftûnî fî amrî, mâ kuntu qâthi‘atan amran ḫattâ tasy-hadûn
Dia (Balqis) berkata, “Wahai para pembesar, berilah aku pertimbangan dalam urusanku (ini). Aku tidak pernah memutuskan suatu urusan sebelum kamu hadir (dalam majelisku).”
qâlû naḫnu ulû quwwatiw wa ulû ba'sin syadîdiw wal-amru ilaiki fandhurî mâdzâ ta'murîn
Mereka menjawab, “Kita memiliki kekuatan dan ketangkasan yang luar biasa (untuk berperang), tetapi keputusan berada di tanganmu. Maka, pertimbangkanlah apa yang akan engkau perintahkan.”
qâlat innal-mulûka idzâ dakhalû qaryatan afsadûhâ wa ja‘alû a‘izzata ahlihâ adzillah, wa kadzâlika yaf‘alûn
Dia (Balqis) berkata, “Sesungguhnya raja-raja apabila menaklukkan suatu negeri, mereka tentu membinasakannya dan menjadikan penduduknya yang mulia jadi hina. Demikianlah yang mereka akan perbuat.
wa innî mursilatun ilaihim bihadiyyatin fa nâdhiratum bima yarji‘ul-mursalûn
Sesungguhnya aku akan mengirim utusan kepada mereka dengan (membawa) hadiah dan (aku) akan menunggu apa yang akan dibawa kembali oleh para utusan itu.”
fa lammâ jâ'a sulaimâna qâla a tumiddûnani bimâlin fa mâ âtâniyallâhu khairum mimmâ âtâkum, bal antum bihadiyyatikum tafraḫûn
Ketika (para utusan itu) sampai kepada Sulaiman, dia berkata, “Apakah kamu akan memberi harta kepadaku (sebagai hadiah)? Apa yang Allah berikan kepadaku lebih baik daripada apa yang Allah berikan kepadamu, tetapi kamu merasa bangga dengan hadiahmu.
irji‘ ilaihim falana'tiyannahum bijunûdil lâ qibala lahum bihâ wa lanukhrijannahum min-hâ adzillataw wa hum shâghirûn
Pulanglah kepada mereka (dengan membawa kembali hadiahmu)! Kami pasti akan mendatangi mereka dengan bala tentara yang tidak mungkin dikalahkan. Kami pasti akan mengusir mereka dari negeri itu (Saba’) dalam keadaan terhina lagi tunduk.”
qâla yâ ayyuhal-mala'u ayyukum ya'tînî bi‘arsyihâ qabla ay ya'tûnî muslimîn
Dia (Sulaiman) berkata, “Wahai para pembesar, siapakah di antara kamu yang sanggup membawakanku singgasananya sebelum mereka datang menyerahkan diri?”
qâla ‘ifrîtum minal-jinni ana âtîka bihî qabla an taqûma mim maqâmik, wa innî ‘alaihi laqawiyyun amîn
Ifrit dari golongan jin berkata, “Akulah yang akan membawanya kepadamu sebelum engkau berdiri dari singgasanamu. Sesungguhnya aku benar-benar kuat lagi dapat dipercaya.”
qâlalladzî ‘indahû ‘ilmum minal-kitâbi ana âtîka bihî qabla ay yartadda ilaika tharfuk, fa lammâ ra'âhu mustaqirran ‘indahû qâla hâdzâ min fadlli rabbî, liyabluwanî a asykuru am akfur, wa man syakara fa innamâ yasykuru linafsih, wa mang kafara fa inna rabbî ghaniyyung karîm
Seorang yang mempunyai ilmu dari kitab suci berkata, “Aku akan mendatangimu dengan membawa (singgasana) itu sebelum matamu berkedip.” Ketika dia (Sulaiman) melihat (singgasana) itu ada di hadapannya, dia pun berkata, “Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mengujiku apakah aku bersyukur atau berbuat kufur. Siapa yang bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri. Siapa yang berbuat kufur, maka sesungguhnya Tuhanku Mahakaya lagi Mahamulia.”
qâla nakkirû lahâ ‘arsyahâ nandhur a tahtadî am takûnu minalladzîna lâ yahtadûn
Dia (Sulaiman) berkata, “Ubahlah untuknya singgasananya, kita akan melihat apakah dia (Balqis) mengenali(-nya) atau tidak mengenali.”
fa lammâ jâ'at qîla a hâkadzâ ‘arsyuk, qâlat ka'annahû huw, wa ûtînal-‘ilma ming qablihâ wa kunnâ muslimîn
Ketika dia (Balqis) datang, ditanyakanlah (kepadanya), “Serupa inikah singgasanamu?” Dia (Balqis) menjawab, “Sepertinya ya. Kami telah diberi pengetahuan sebelumnya) dan kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).”
wa shaddahâ mâ kânat ta‘budu min dûnillâh, innahâ kânat ming qauming kâfirîn
Kebiasaannya (Balqis) menyembah selain Allah telah mencegahnya (dari tauhid). Sesungguhnya dia dahulu termasuk kaum yang kafir.
qîla lahadkhulish-shar-ḫ, fa lammâ ra'at-hu ḫasibat-hu lujjataw wa kasyafat ‘an sâqaihâ, qâla innahû shar-ḫum mumarradum ming qawârîr, qâlat rabbi innî dhalamtu nafsî wa aslamtu ma‘a sulaimâna lillâhi rabbil-‘âlamîn
Dikatakan kepadanya (Balqis), “Masuklah ke istana.” Ketika dia (Balqis) melihat (lantai istana) itu, dia menyangkanya kolam air yang besar. Dia menyingkapkan (gaun yang menutupi) kedua betisnya. Dia (Sulaiman) berkata, “Sesungguhnya ini hanyalah lantai licin (berkilap) yang terbuat dari kaca.” Dia (Balqis) berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku. Aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam.”
wa laqad arsalnâ ilâ tsamûda akhâhum shâliḫan ani‘budullâha fa idzâ hum farîqâni yakhtashimûn
Sungguh, Kami benar-benar telah mengutus kepada (kaum) Samud saudara mereka (sesuku), yaitu Saleh (yang menyeru), “Sembahlah Allah!” Tiba-tiba mereka (menjadi) dua golongan yang bermusuhan.
qâla yâ qaumi lima tasta‘jilûna bis-sayyi'ati qablal-ḫasanah, lau lâ tastaghfirûnallâha la‘allakum tur-ḫamûn
Dia (Saleh) berkata, “Wahai kaumku, mengapa kamu meminta disegerakan keburukan (azab) sebelum (meminta) kebaikan (rahmat)? Mengapa kamu tidak memohon ampunan kepada Allah agar kamu dirahmati?”
qâluth thayyarnâ bika wa bimam ma‘ak, qâla thâ'irukum ‘indallâhi bal antum qaumun tuftanûn
Mereka menjawab, “Kami bernasib malang karena engkau dan orang-orang yang bersamamu.” Dia (Saleh) berkata, “Nasibmu (malang atau tidak ditetapkan) di sisi Allah (bukan karena kami). Kamu adalah kaum yang sedang diuji.”
wa kâna fil-madînati tis‘atu rahthiy yufsidûna fil-ardli wa lâ yushliḫûn
Di kota itu ada sembilan orang laki-laki yang berbuat kerusakan di bumi. Mereka tidak melakukan perbaikan.
qâlû taqâsamû billâhi lanubayyitannahû wa ahlahû tsumma lanaqûlanna liwaliyyihî mâ syahidnâ mahlika ahlihî wa innâ lashâdiqûn
Mereka berkata, “Bersumpahlah kamu masing-masing dengan (nama) Allah bahwa kita pasti akan menyerang dia (Saleh) bersama keluarganya pada malam hari. Kemudian, kita akan mengatakan kepada ahli warisnya (bahwa) kita tidak menyaksikan kebinasaan keluarganya itu. Sesungguhnya kita adalah orang-orang yang benar.”
wa makarû makraw wa makarnâ makraw wa hum lâ yasy‘urûn
Mereka membuat tipu daya dan Kami pun menyusun tipu daya, sedangkan mereka tidak sadar.
fandhur kaifa kâna ‘âqibatu makrihim annâ dammarnâhum wa qaumahum ajma‘în
Perhatikanlah bagaimana akibat tipu daya mereka bahwa sesungguhnya Kami membinasakan mereka dan semua kaumnya.
fa tilka buyûtuhum khâwiyatam bimâ dhalamû, inna fî dzâlika la'âyatal liqaumiy ya‘lamûn
Itulah rumah-rumah mereka yang kosong (sebagai bukti bahwa mereka binasa) akibat kezaliman mereka. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang mengetahui.
wa anjainalladzîna âmanû wa kânû yattaqûn
Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman dan selalu bertakwa.
wa lûthan idz qâla liqaumihî a ta'tûnal-fâḫisyata wa antum tubshirûn
(Ingatlah kisah) Lut ketika dia berkata kepada kaumnya, “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan keji, padahal kamu mengetahui (kekejiannya)?”
a innakum lata'tûnar-rijâla syahwatam min dûnin-nisâ', bal antum qaumun taj-halûn
Mengapa kamu mendatangi laki-laki, bukan perempuan, untuk (memenuhi) syahwat(-mu)? Sungguh, kamu adalah kaum yang melakukan (perbuatan) bodoh.”