مَوْلَايَ صَلِّ وَسَلِّمْ دَآئِــمًا أَبَـدًا ۞ عَلَى حَبِيْبِـكَ خَيْــرِ الْخَلْقِ كُلِّهِمِ
Maulâya shalli wa sallim dâ'iman abadan ۞ ‘alâ ḫabîbika khairil-khalqi kullihimi
Ya Tuhanku, limpahkanlah selalu rahmat takzim dan keselamatan atas kekasih-Mu yang terbaik di antara seluruh makhluk
أَمِنْ تَذَكُّــرِ جِــــيْرَانٍ بِذِيْ سَــــلَمِ ۞ مَزَجْتَ دَمْعًا جَرَى مِنْ مُقْلَةٍ بِـــدَمِ
amin tadzakkuri jîrânin bidzî salami ۞ mazajta dam‘an jarâ min muqlatin bidami
Apakah karena mengingat para kekasih di Dzi Salam sana, Engkau deraikan air mata dengan darah duka?
أَمْ هَبَّتِ الرِّيْحُ مِنْ تِلْقَـاءِ كَاظِمَـةٍ ۞ وَأَوْمَضَ الْبَرْقُ فِيْ الْظَلْمَآءِ مِنْ إِضَـمِ
Am habbatir-rîḫu min tilqâ'i kâdzimatin ۞ wa aumadlal-barqu fidl-dhalmâ'i min idlami
Ataukah karena embusan angin terarah lurus berjumpa di Kadhimah (Madinah), atau sebab kilatan cahaya gulita malam dari kedalaman Lembah Idlam?
فَمَا لِعَيْنَيْكَ إِنْ قُلْتَ اكْفُفَا هَمَتَا ۞ وَمَا لِقَلْبِكَ إِنْ قُلْتَ اسْتَفِقْ يَهِـــمِ
Fa mâ li ‘ainaika in qultak-fufâ hamatâ ۞ wa mâ liqalbika in qultas-tafiq yahimi
Lalu mengapa kedua air matamu tetap meneteskan air mata? Padahal engkau telah berusaha membendungnya. Apa yang terjadi dengan hatimu? Padahal engkau telah berusaha menghiburnya.
أَيَحْسَبُ الصَّبُّ أَنَّ الْحُبَّ مُنْكَتِمٌ ۞ مَا بَيْنَ مُنْسَجِمٍ مِنْهُ وَمُضْطَـــرِمِ
Ayaḫsabush-shabbu annal-ḫubba munkatimun ۞ mâ baina mun sajimin minhu wa mudltharimi
Apakah diri yang dirundung nestapa karena cinta mengira bahwa api cinta dapat disembunyikan di antara derai air mata dan hati yang terbakar asmara?
لَوْلَا الْهَوَى لَمْ تُرِقْ دَمْعًــا عَلَى طَلَلٍ ۞ وَلَا أَرِقْتَ لِذِكْرِ الْبَـــانِ وَالْعَلَـــمِ
Lau lâl-hawâ lam turiq dam‘an ‘alâ thalalin ۞ wa lâ ariqta lidzikril-bâni wal-‘alami
Andaikan bukan karena cinta, tentu kau tak akan meratapi puing-puing kenangan masa lalu. Kau juga tak akan terjaga mengenang pohon al-Ban dan Bukit Alam.
Dapatkan NU Online Super App untuk pengalaman lebih lengkap di telefon anda.
Muat Turun Sekarang